Waktuku

Semakin ku tarik semakin terulur
Semakin ku ulur namun semakin pendek...
Seperti hari ini...
waktu yang begitu kunanti
Namun sesungguhnya tak ingin kulewati..
dan hanya perlu tuk ku pahami..

Ada banyak cerita dengan segala rasa
Yang sepertinya akan datar
Justru berliku-liku tak menentu...
Mengenang kisah yang tak bisa dijadikan pelajaran
Melupakan prosa yang menyimpan sejuta rahasia...

Mundur... akan kutemukan kembali kalimat-kalimat pahit
dan berujung penyesalan..
Terus maju.. namun ingin kembali mendengar tawa
Bersama goresan hati yang terus dipelihara
Berharap batu menjadi air sungai yang mengalir...
Namun semua hanya ada satu pilihan dan jawabannya..
Hadapi...

Ada yang berbahagia menghadapinya
Mereka yang lupa cara menghitung.. seperti aku..
Ada yang bersedih menyambutnya
Mereka yang tak memiliki kekuatan
tuk percaya akan datangnya bulan purnama
Seperti aku...

Diantara tujuh langit yang bersusun dan terhampar
Akan ku genggang dua batu
yang hitam kan kupergunakan menulis
di atas lapangnya yang putih...
Waktu itu terus datang
Hanya perlu kupahami dan kuhadapi..


- menitipkan satu catatan yang tiba-tiba muncul di benak "Dekat itu bukan ketika kita duduk dengan jarak kurang dari 5 centi.. tapi itulah ketika kita mampu saling mengerti, memahami dan merelakan apa yang terbaik untuk masing-masing diri kita..." khusus untukku sendiri... -

ditulis setelah pindah 1 waktu dari waktu tercatat

Read More

Tak Ku Beri Judul

Aku berada di dalam ruang biru terbesar

Mengagumkan terlihat dengan tebaran kapas putih
Tersapu Angin... Berubah bentuk...
Mengusik Ingatanku
Memaksa jemariku menuliskan jejak ini
Jejak yang tak ku beri judul

Inilah saat kita tengah mengukur jarak
Jarak yang tak mampu mempertemukan
Kedua mata kita meski ku teriakkan namamu
Hingga tercekat pita suaraku
Terkadang suara deru mesin yang kini kupijak
Berubah menjadi suaramu yang kerap kudengar
Saat kau tertawa, saat kau marah, atau saat kau bersemangat
Kubesarkan hatiku yang galau mengingatmu
Meski udara dingin ini memaksa mataku tuk terpejam
Tapi tak ingin ku pejamkan mataku
Sebab akan ada sesuatu yang hangat mengalir darinya
Bersama namamu satu demi satu kusebut dalam hati

Ku tahu jarak ini memisahkan raga kita
Tapi aku mengerti sesungguhnya kita selalu dekat
Sebab hati kita selalu bersama
Meski suatu ketika ada kata permohonan maaf
Yang harus kutitipkan untukmu
Sebab mungkin saja ku tak kembali
Tapi aku tetap berharap bahwa akan ada satu kata
Yang bersama-sama akan kita ucapkan
“Meski raga kita terpisah….
Maaf aku tak bisa menjauh dari hatimu”

-          Kutulis diantara untaian kapas lembut yang membentuk mega… untuk engkau para pemilik hati yang beruntun kugandeng dalam hatiku – 7 Desember 2013 -

Read More

Menggandeng Angin

Kutepis angin tipis yang menyambut
mengkelitik pelipis menggoda helain rambut
Kapan badai reda engkau akan berbisik

Terbangun dari tidurku disampingmu
Tercerai mimpiku di sampingmu
Kuingat...
Kugandeng Angin kurengkuh jemarimu

Wajah pucatmu seperti lugunya lebah di mawar merah
Dihadang angin damai disentuh gurindam pagi
Saat kau katakan "Hay bodoh...!"

Aku bodoh karena pagi ini angin membawamu
penuh kejutan penuh badai biru

Kadang hati sulit dipercaya
kadang angin tak berhenti menyapa
kadang engkau hidup hanya untuk dalam ingatan belaka

Read More

Lirik Lagu Alicee in Wonderland - Avril Lavigne

Trappin out
Spinning around
I'm underground
I fell down
Yeah I fell down

I'm freaking out, where am I now?
Upside down and I can't stop it now
Can't stop me now, oh oh

I, I'll get by
I, I'll survive
When the world's crashing down
When I fall and hit the ground
I will turn myself around
Don't you try to stop me
I, I won't cry

I found myself in Wonderland
Get back on my feet, on ground
Is this real?
Is this pretend?
I'll take a stand until the end

I, I'll get by
I, I'll survive
When the world's crashing down
When I fall and hit the ground
I will turn myself around
Don't you try to stop me
I, I won't cry

I, I'll get by
I, I'll survive
When the world's crashing down
When I fall and hit the ground
I will turn myself around
Don't you try to stop me
I, and I won't cry

Read More

The Collective - Surrender

Round one I couldn't believe it
You came and knocked me out
With those killer eyes
You stopped my heart from beating
Without saying a word
Took me by surprise

You're like a rush to my head
I'm out of breath
I can't keep up this time
You're always one step ahead
Leave me for dead
Girl you're the best and that's why

You make me wanna stand out tonight
Turn out the lights, give up the fight
I surrender
You got me good, I knew that you would
Did the best that I could
But girl you move like a butterfly, butterfly
Then you sting like a bee
I tried to be bulletproof, you got to me
Gonna stand out tonight, turn out the lights
Give up the fight
I surrender

Round two, I think I'm only dreaming
This just can't be for real
You're right here with me
I just don't wanna wait
Don't take me from this place
Where I wanna be

You're like a rush to my head
I'm out of breath
I can't keep up this time
You're always one step ahead
Leave me for dead
Girl you're the best and that's why

You make me wanna stand out tonight
Turn out the lights, give up the fight
I surrender
You got me good, I knew that you would
Did the best that I could
But girl you move like a butterfly, butterfly
Then you sting like a bee
I tried to be bulletproof, you got to me
Gonna stand out tonight, turn out the lights
Give up the fight
I surrender

I surrender

Ding ding like a bell ring, throw the towel in
She's one step ahead of anything I bring
I mean I'm not afraid to admit to defeat
She completes me completely
I'm free just to be who I am
So I'm never going down
Just believe in these dreams or reality
The reason I'm breathing
I'm taken, so baby just take me down
With the love I'm chasing

You make me wanna stand out tonight
Turn out the lights, give up the fight
I surrender
You got me good, I knew that you would
Did the best that I could
But girl you move like a butterfly, butterfly
Then you sting like a bee
I tried to be bulletproof, you got to me
Gonna stand out tonight, turn out the lights
Give up the fight
I surrender
Surrender
Surrender

Read More

Lirik & Terjemahan Love You Like a Love Song - Selena Gomez

It's been said and done
Sudah dikatakan dan dilakukan
Every beautiful thought's been already sung
Semua pikiran yang indah sudah dinyanyikan
And I guess right now here's another one
Dan kukira ini satu lagi
So your melody, will play on and on, with best of 'um
Maka melodimu, akan terus terngiang, terbaik yang kumiliki

You are beautiful
Kau indah
Like a dream come alive, incredible
Seperti mimpi yang jadi nyata, menakjubkan
A centerfold, miracle, lyrical
Pusat perhatian, keajaiban, liris

You saved my life again, and I want you to know Baby
Kau selamatkan hidupku lagi, dan aku ingin kau tahu Kasih
CHORUS (2x)
I, I love you like a love song Baby
Aku mencintaimu seperti lagu cinta
I, I love you like a love song Baby
Aku mencintaimu seperti lagu cinta
I, I love you like a love song Baby
Aku mencintaimu seperti lagu cinta
And I keep hitting repeat-peat-peat-peat-peat-peat (oh-oh)
Dan aku terus memencet tombol ulangi
Constantly, boy you played through my mind like a symphony
Kau terus bermain di pikiranku seperti sebuah simfoni
There's no way to describe what you do to me
Tak bisa kujelaskan apa yang kau lakukan padaku
You just do to me, what you do
Kau lakukan begitu saja, apa yang kau lakukan
And it feels like I've been rescued
Dan rasanya aku telah diselamatkan
I've been set free
Aku tlah dibebaskan
I am hypnotized, by your destiny
Aku terhipnotis oleh takdirmu
You are magical, lyrical, beautiful
Kau magis, liris, dan indah
You are, and I want you to know Baby
Begitulah, dan aku ingin kau tahu
CHORUS (2x)

No one compares, you stand alone
Tak ada yang sebanding, kau paling menonjol
To every record I own
Di antara piringan hitam yang kupunya
Music to my heart, that's what you are
Musik bagi hatiku, itulah dirimu
A song that goes on and on
Lagu yang terus terngiang
CHORUS (2x)

Read More

Kroket Ubi Jalar

Assalamu'alaikum....
nah hari masih dalam suasana bulan Ramadhan nie....
Biasanya kita pada bingung mau buka puasa apa ya ?? hari ini, esok dan lusa ??
Nah beberepa hari lalu Ay iseng-iseng nyobain bikin Kroket Ubi Jalar. kayaknya pas banget gitu kalo dipake untuk suguhan buka puasa.. hehehe
Ingredient yang Ay gunakan kali ini yaitu....... under here... :)

Bahan Kulit :
* 1 Kg Ubi Jalar ( Kukus, kupas kulitnya kemudian haluskan )

* 5 Sdm Tepung Terigu
* 3 Sdm Blue Band ( margarin )
* 3 Butir telur (kocok)
* Tepung Panir Secukupnya * 1/2 liter minyak untuk menggoreng

ini salah satu kroket yg pernah ay buat_ (gelap ya ? kamerax g bagus__ hehe)


Bahan Isi :
* 1 Kaleng Kornet Sapi
* 3 Buah wortel poteng dadu                  
* 5 buah Jamur Kancing ( boleh diganti dengan jamur jenis lain )
* 2 Batang daun bawang ( potong seperti untuk taburan sup )
* 3 Batang seledri ( Potong seperti untuk taburan sup )

Bumbu yang dihaluskan :
* 5 buah cabai rawit
* 1 Sdt merica bubuk
* 3 Siung Bawang Putih
* 5 Siung bawang merah
* 3 sdm minyak goreng untuk menumis
* Garam dan penyedap rasa secukupnya



Cara Membuat :
* Isi :
Tumis bumbu halus hingga harum. Masukkan wortel dan jamur, tumis hingga layu. Masukkan Kornet, masak hingga matang. Angkat dan dinginkan.
* Kulit :
Campur ubi jalar, tepung terigu dan blueband. uleni sampai merata.
* Ambil secukupnya bahan kulit, pipihkan atau dengan agak cekung tengahnya, kemudian isi dengan bahan isi. Setelah itu bentuk bulat lonjong. (yah pokokx cara ngisinya sama aja dengan ngisi pempek dsb dah_) hehe
* Balurkan ubi yang sudah diisi kedalam telur, kemudian celupkan pada kocokan telur, kemudian balurkan lagi dengan tepung panir dengan agak diremas agar panir menempel rekat. lakukan hingga adonan habis.
* Goreng dengan minyak banyak dan panas hingga kuning kecoklatan. angkat. Nah.. kroket siap dihidangkan... :)

Tips : bisa dimakan dengan lombok biji atau saus sambal

Read More

Cerpen - SUBUH - Bag. II


Awal tahun 2013 masih terasa. Tiga hari yang lalu, mungkin bintang – bintang kesal menyaksikan kejadian rutin tahunan itu. Merasa tersaingi dengan kilatan cahaya kembang api yang memenuhi langit. Malam itu terasa panjang sebab ada kesendirian yang membawaku menonton pesta dunia itu. Tapi syukur ada matic biruku yang bisa membawaku patroli.
Pagi ini masih sunyi. Kususuri koridor gedung fakultas yang catnya mulai pudar. Wangi segar rumput yang basah tercium di inderaku. Nampaknya, mereka telah berpesta dengan hujan semalam. Tapi tetap saja, warna hijaunya belum mampu mengalahkan warna kubah mesjid kampus yang kemarin baru selesai dicat.
Pintu ruang kelas yang berjajar nampak sudah terbuka. Kulirik alroji tuaku, pukul 7 lebih 10 menit. Tiga puluh lima menit lagi. Kuputar gagang pintu sebuah ruangan dan kutarik perlahan. Ruangan kosong yang akan kugunakan beberapa saat lagi.
“Mbak, mau pakai ruangan itu ya..? Cari kelas lain saja ya… soalnya kelasnya belum dibersihkan. Masih berantakan, Mbak.” suara lelaki yang kukenal mengejutkanku dari arah belakang.
“Oh, iya, Pak. Tidak apa-apa. Kelas mana lagi yang bisa saya pakai, Pak?.”
“Hmm.. Mbak ini dosen baru ya ? di kelas yang ujung sana saja Mbak. Mekipun lebih kecil, tapi udah bersih dan ada juga kok, AC-nya.” Tuturnya kemudian meminta tabik.
Lelaki itu pergi, namun sebelumnya ia mengunci kelas kosong itu. Sekilas kuperhatikan, ruangan itu nampak lain. Terasa aneh. Ada bau aneh persis seperti saat kulewati jalanan depan pertamina di malam tahun baru itu. Tepatnya sebelum subuh. Wajah penjaga fakultas itu pun tampak seperti kain luntur yang belum disetrika.
Kutinggalkan tempat itu setelah melemparkan senyum pada lelaki paruh baya itu. Langkahku kupercepat menuju perpustakaan. Kuingat bahan kuliah hari ini belum kelar kusiapkan. Di perpustakaan kutemui wajah manis yang tak begitu asing di mataku. Gadis berkacamata dengan rambut pirangnya yang selalu terurai. Tangannya memegang sebuah Koran yang agak lusuh.
“Selamat pagi. Sedang apa ?” sapaku padanya yang tersenyum melihat kedatanganku.
“Pagi, Bu. Sedang baca koran. Ada berita kurang sedap  di depan pertamina jalan semangka.” Jawabnya
“Oh. Berita apa ? beberapa malam lalu saya lewat jalan itu.”
“Itu, Bu. Ditemukan seorang pemuda tewas di pinggir jalan. Ada yang bilang ia  di bunuh. Oh ya, Bu. Saya dengar ada mahasiswa di sini yang meninggal tadi subuh.”ceritanya pelan.
“Wah ! saya belum dengar kabar itu. Dari mana kamu tahu ? siapa namanya ?” tanyaku mulai penasaran.
“Saya belum tahu, Bu. Itu hanya saya dengar sekilas saat Pak Dekan bercerita pada Pak Kajur.”
Perasaanku jadi tak tenang. Mungkin ada hubungannya dengan kelas yang aneh tadi. Kucoba menghubungi Immank, namun tak ada yang menjawab ponselnya. Aku coba menenangkan perasaanku, tapi tak bisa. Kembali kulihat alrojiku. Sudah hampir waktu kelas.
Kutinggalkan perpustakaan dan gadis itu tanpa pamit. Koridor fakultas yang tadi masih sunyi seketika menjadi ramai. Mading. Objek kerumunan mahasiswa saat ini. Entah apa yang mereka lihat. Beberapa orang nampak mengintip ke dalam ruangan yang dikunci oleh penjaga yang kutemui tadi.
Atas rasa penasaran dan perasaan yang tak karuan, kuputuskan menyerobot kerumunan itu. Mataku langsung terpaku pada tulisan yang terpampang di benda mati itu.
“Astagfirullah… Innalillahi wa Inna’ilaihi Ra..jiun..”
Sekujur tubuhku terasa kelu. Sedang bibirku mulai kaku. Sekejap terasa ada batu besar yang menghantam kepaku. Tubuhku menggelepar ke lantai. Entah apa yang terjadi kemudian.
***
Kepala ini masih sejajar dengan lantai. Bersama pikiran yang kacau diiringi ucapan-ucapan lirih dari bibir yang bergetar. Setiap sebuah nama tersebut, dada ini menjadi sesak. Diantara dinding yang serba putih, bersama pelupuk mataku yang menebal, rasa tak percaya, sesal ataupun kesal bercampur aduk menjadi satu. Menjadi seperti kotoran yang berkarat di dalam hati.
Tuhan, seberat inikah cobaan yang Engkau berikan pada ku ? Haruskah jalan ini yang Aku lewati dalam hidupku ?
Saat itu, seseorang yang dengan tubuh yang rasanya begitu dekat di ingatan, mendekapku dari belakang. Ku tatap wajah sosok itu. Wajah Immank benar-benar ada padanya. Aku kembali tersedu. Bahkan lebih keras saat kusadari apa yang kuimajinasikan ini salah.
“Sabarlah, Sayank.” Ucapnya dengan suara parau.
Kupeluk erat ia. Semakin keras tangisanku. Mungkin meraung seperti orang yang kesurupan jin di pergantian malam.
“Bu, kenapa ini yang harus Fi alami, Bu ? Kenapa ? bahkan belum cukup dua hari ku ucapkan salam untuknya, Kenapa, Bu ? Kenapa ?”
Tubuhku kembali melemas. Meskipun telinga ini masih mampu mendengar suara tangisan perempuan yang memelukku erat itu, kelopak mataku tak sanggup kubuka.
“Nak Irga, tolong jaga Alfi sebentar, ya. Sebentar lagi ayahnya akan sampai”
“Baik, Tante. Tante yang tegar, ya. Oh ya, pelakunya sudah mengaku dan polisi sudah meringkuk Pak Rektor selepas Isya tadi. Tante yang sabar ya”
Ya Allah… Harus secepat inikah Kau ambil ia kembali ?
            Suratan telah ditentukan. Semua berasal dari Allah, maka suatu saat akan kembali pada Allah. Tak pernah tahu kapan waktu itu akan tiba. Hanya manusia yang mengerti yang akan selalu memikirkannya.
***
Ponselku masih tergeletak di atas lantai yang terasa semakin dingin. Aku hanya termangu menatap pesan yang terpampang pada layarnya yang masih satu warna.
‘Turut berduka cita, atas meninggalnya saudara dan kawan kita Firman Abdillah, kemarin subuh. Semoga ia ditempatkan di tempat terindah, sisi Allah, dan diberikan ketabahan bagi keluarganya. Amin. Indar’
Maafkan Kakak, Immank.

Read More

FB Comment

 

©2009CATATAN KECILKU | by TNB