AKSI MASSA TAN MALAKA 1926 - Pengantar Penulis


(Mephistopheles)

Asia sudah bangun!
Lambat laun bangsa-bangsa Asia yang terkungkung itu tentu akan memperoleh kebebasan dan kemerdekaan. Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bi­lamana dan dimana bendera kemerdekaan yang pertama akan berkibar. Siapa yang menyelidiki sedalam-dalam­nya perekonomian Timur, politik dan sosiologi akan da­pat menunjukkan halkah rantai yang selemah-lemahnya dalam rentengan rantai panjang yang mengikat perbuda­kan Timur. Indonesialah halkah rantai yang lemah itu. Di Indonesia benteng imperialisme Barat yang pertama dapat ditempur dengan berhasil.
Imperialisme Belanda lebih tua dan lebih kuno dari pada imperialisme Inggris dan Amerika, dipisahkan oleh satu lembah yang tak dapat diseberangi dari jajahannya. Negeri Belanda, karena tidak mempunyai bahan-bahan untuk industrinya, dari dahulu hanya mengusahakan per­tanian dan perdagangan.
Penjabaran kapitalnya dari permulaan abad ini ke se­luruh Indonesia sangat luasnya.
Pusat industri Belanda sekarang terletak di Indone­sia, sedang pusat perdagangan dan keuangannya ada di negeri Belanda. Bankir, industrialis dan saudagar tinggal di negeri Belanda, sedang buruh dan tani di Indonesia. Jika kita perhatikan kedua lautan yang memisahkan Be­landa dengan Indonesia itu, serta tidak pula kita lupakan perbedaan bangsa, agama, bahasa, adat-istiadat antara penjajah dan si terjajah, antara pemeras dan si terperas, tampaklah kepada kita satu perbandingan dari pergaul­an yang luar biasa di dunia imperialisme waktu seka­rang. Luar biasa, sebab kaum modal bumiputra tak ada. Jadi, titian antara negeri Belanda dengan Indonesia pu­tus sama sekali.
Ketiadaan kaum modal bumiputra yang sifatnya hampir bersamaan dengan imperialisme Belanda (sama­sama mau menggencet buruh dan tani) menyebabkan im­perialisme Belanda sukar sekali membereskan krisis eko­nomi di Indonesia. Dimanakah ada di Indonesia tuan-tu­an tanah bumiputra seperti di Mesir, India dan Filipina yang dapat menunjang kaum imperialisme untuk membela kepentingan-kepentingan ekonomi mereka? Dan dimanakah ada kaum modal bumiputra yang kuat, yang meminta-minta kekuasaan dalam politik perekonomian‑nya seperti di India?
Tuan-tuan tanah Indonesia yang sedikit berarti telah lama menjadi gembala, kuli atau kuli tinta! Bangsa-bang­sa Eropa, Tionghoa dan dan Arab menguasai semua per­dagangan besar, menengah ataupun kecil! Bangsa Indo­nesia yang menengah atau yang kecil telah lenyap dari Pulau Jawa sejak beberapa tahun yang silam oleh pema­sukan barang-barang pabrik dari Eropa.
Soal perguruan dengan sengaja dilengahkan oleh Be­landa, kaum intelektual jadi kurang. Sebab itu, kendati­pun kaum saudagar bumiputra seperti India, mau me­nyokong mereka mendirikan industri, toh tidak akan berhasil.
Sebab ketiadaan kaum modal tuan tanah bumiputra itu, maka setiap aksi parlementer dari partai nasional ma­na pun tidak berguna.
Bagaimanakah "bapak gula" dan "nenek minyak" di negeri Belanda akan dapat memberikan hak pemilihan umum kepada bangsa Indonesia? Atau dengan lain arti: mempercayakan kekuasaan politik kepada wakil-wakil tani dan buruh yang miskin? Jika sekiranya di belakang kaum intelektual, berdiri tuan-tuan tanah dan kaum modal bumiputra yang akan mereka wakili di parlemen, tentulah akan berlainan keadaan itu. Dan cakap angin tentang "perubahan dalam pemerintahan di Indonesia" ada juga artinya sedikit. Imperialis Belanda berangsur-angsur, lambat laun dapat menyerahkan pemerintahan itu kepada bangsa Indonesia yang cakap dan jujur. Bukan­kah melindungi modal bumiputra, sebagian juga berarti melindungi modal bangsa asing? Di dalam nisbah seka­rang ini nyatalah bahwa flap pemerintahan bangsa Indo­nesia haruslah tunduk kepada kemauan modal asing yang besar-besar. Dan pemerintahan seperti itu tak akan diakui sebagai berasal dari rakyat dan oleh rakyat!
Pendeknya, Indonesia tak mempunyai faktor-faktor ekonomi, sosial ataupun intelektual buat melepaskan diri dari perbudakan ekonomi dan politik di dalam lingkung­an imperialisme Belanda. Bersamaan dengan itu, kans untuk mencapai kemerdekaan dalam arti yang seluas­-luasnya dengan jalan menguasai setengah, tiga perempat, hingga tujuh per delapan parlemen lenyap buat selama­nya. Impian seorang makhluk seperti Notosuroto yang mengangan-angankan Nederlandia Raja akan tetap jadi lamunan orang yang fasik.
Indonesia dapat menaikkan ekonominya jika kekua­saan politik ada di tangan rakyat. Dan Indonesia akan mendapat kekuasaan politik tidak dengan jalan apa pun, kecuali dengan aksi politik yang revolusioner lagi teratur, dan yang tidak mau tunduk.
Dewan Rakyat kadang-kadang boleh dimasuki! Teta­pi bukan dipergunakan sebagai senjata yang sah untuk memperoleh pemerintahan nasional yang bertanggung jawab penuh dengan perantaraan Dewan Rakyat bekerja sama dengan imperialis Belanda. Tetapi guna mengem­bangkan usaha revolusioner hingga ke dalam kamar-kamar diperoleh dengan perantaraan aksi-aksi parlementer samalah dengan seseorang di Gurun Sahara yang mem­bum fatamorgana. Tetapi siapa yang mempergunakan sekalian pengetahuannya untuk aksi massa yang teratur, niscaya memperoleh kemenangan itu seumpama "ayam pulang ke kandangnya".
Soal kemerdekaan Indonesia bukanlah satu soal yang terbatas di Indonesia saja, yang dapat dipecahkan dengan perantaraan kongres dan putusan-putusan yang lembek di Dewan Rakyat, jangan dikata lagi dengan perantaraan kelakar-kelakar ekonomi dan kebudayaan di warung ko­pi. Soal itu mempunyai hubungan yang sangat rapat de­ngan kekuasaan Barat terhadap bangsa berwarna di benua Timur.
Salah satu sebab — dan ini bukan sebab yang terkecil — mengapa Amerika tidak juga memberikan kemerde­kaan yang seluas-luasnya kepada orang Indonesia Utara (Filipina) yang menurut perkataan kawan ataupun lawan­nya telah lama matang (seperti kata surat-surat kabar im­perialisme Amerika di Manila) adalah bahwa kemerde­kaan Filipina berarti satu pemberontakan dan penyembelihan di Asia melawan kekuasaan kulit putih (a general re­volt in Asiatic countries against white authority, uprising being attended by slaughter). Kelepasan Indonesia (pu­sat arti ilmu bumi dan peperangan Asia, penduduk lima kali lebih besar dari Filipina dan dengan perdagangan in­ternasional) mustahil tidak berarti sebagai satu pistol yang ditujukan kepada kekuasaan Barat terutama Inggris di Asia.
Belum lama ini bekas putra mahkota Wilhelm mene­rangkan kepada seorang wakil dari United Press di Locarno yang diumumkan oleh radio ke seluruh dunia, bah­wa bila manusia yang berjuta-juta di Asia pada satu hari bergerak memukul Anglosakson (Inggris, Prancis dan Be­landa) niscaya bangsa Melayulah yang pertama kali akan menyebabkan kesusahan. Pengharapan imperialistis dan sindiran macam apakah yang dimaksud putra mahkota yang senewen itu, bagi kita tetap nyata: bahwa Indonesia sekarang bukan Indonesia pada beberapa tahun yang lalu. Indonesia telah mengambil tempat yang penting dalam barisan berjuta-juta manusia di Asia.
Karena itu, kemenangan yang diperoleh dengan jalan damai dan parlementer sama sekali tak boleh dipikirkan. Bukankah hal serupa itu tepat mengganggu ketentraman kapitalis di Timur? Bila suatu hari Indonesia terlepas dan mempertahankan kemerdekaannya dari musuh-musuh dalam dan luar negeri, tentulah hal tersebut ditentukan oleh kodrat revolusioner, yakni yang disebabkan oleh ak­si massa: dari massa dan untuk massa.
Kalau penjajahan Belanda selama 300 tahun itu tidak berupa perampokan (membunuh habis industri bumiput­ra) niscaya derajat kaum intelektual kita jauh berbeda dari keadaan sekarang! Dan kita tentulah mempunyai sema­ngat kecerdasan (inteligensia) yang menurut asal, didikan dan perasaan menjadi pemuka dari tuan-tuan tanah, in­dustri, saudagar dan pegawai bumiputra. Pun juga akan timbul pergerakan demokrasi dan kemerdekaan nasional yang bersifat kerja sama (kompromis) dengan bangsa Be­landa atas pertolongan buruh dan tani seperti di India, Mesir dan Filipina lebih kurang.
Atas ketiadaan kaum modal bumiputra, intelegensia kita tak kuat berdiri. Ia melayang-layang di antara rakyat dengan pemerintah. Ia tidak mempunyai perasaan ingin mengorbankan diri seperti yang ditunjukkan nasionalis di negeri-negeri lain. Ia tidak mempunyai alat-alat pera­saan, pemikiran yang mendekatkan dirinya kepada mas­sa (rakyat murba). Disebabkan imperialis, kaum intelek­tual kita jauh dari massa.
Mereka tidak mempunyai satu kesaktian yang dapat mempengaruhi dan menarik hati rakyat. Kaum intelektual kita tidak beroleh kepercayaan dan simpati massa untuk menggerakkan mereka, membuat aksi-aksi serta memimpin mereka. Tambahan lagi, sebab jumlah kaum terpelajar yang tidak seberapa, mereka masih tinggal di dalam kelas mereka dan belum menjadi buruh terpelajar.
Untuk sementara waktu, dapatlah mereka menonton dari jauh. Lain halnya kalau jumlah mereka banyak, tentulah mereka akan luntang-lantung dan merasakan kemelaratan sebagai buruh industri dengan penuh "kegembiraan" dalam medan perjuangan.
Kecepatan timbulnya kelas intelektual, kekecewaan terhadap Budi Utomo (B.U.) dan National Indische Party (N.I.P.) serta kekejaman reaksi, mencakar pemandangan mereka ke jurusan yang lain. Sungguhpun masih sangat lambat dan masih berdiri beberapa pal (1 pal = 1.5 kilometer) jauhnya dari mas­sa serta dalam keaktifan dan politik terjejer sangat jauh di belakang dibandingkan dengan kelas mereka di lain ko­loni, tetapi mereka telah mulai bangun dari tidur. "Jubah malaikat" dari Notosoeroto telah dilemparkan mereka, dan mulai bersetuju kepada aksi-aksi revolusioner. Seka­rang dari beberapa universitas di negeri Belanda yang jauh itu berdengung-dengung suara mereka hingga kedengar­an oleh kaum intelektual yang ada di Indonesia.
Tetapi harapan buruh dan tani di Indonesia tidak cuma persetujuan hati saja dari intelektual itu. Mereka menghendaki perbuatan atau bukti-bukti.
Selama kaum terpelajar kita melihat bahwa perjuang­an kemerdekaan sebagai masalah akademi saja, selama itulah perbuatan-perbuatan yang diharapkan itu kosong belaka. Biarlah mereka melangkah keluar dari kamar be­lajar menyeburkan diri ke dalam politik revolusioner yang aktif.
Gelombang pemogokan, pemboikotan dan demon­strasi yang beralun-alun setiap hari bertambah besar, me­lalui rapat nasional menuju ke Federasi Republik Indone­sia, inilah jalan mereka, tidak lain!

Tan Malaka

Read More

Di Balik Tembok

Aku perempuan di balik tembok
Di Ujung sana
Kulihat perepuan-perempuan yang perkasa
Tangannya yang lembut 
tak henti menari mengaitkan ujung ruh
yang sedikit diabaikan
direnggur izrail-izrail pabrik


Tapi aku tak jauh beda dengan mereka
Di balik Tembok ini
Ku lentikkan jemari tanganku
yang sekejap lagi
kan menjadi kekar seperti para lelaki


Di balik tembok ini
kami terbelenggu waktu
waktu yang semakin menggilas perut kami yang lapar


Di Balik tembok ini
kini kudengar suara lantang
suara-suara perempuan yang menyerukan perlawanan


Yaah...!!
Akupun Harus seperti mereka
Mari Kawan...!! Mari kita bersatu...
kita tak boleh hanya diam melihat penindasan ini
Runtuhkan tembok-tembokpabrik yang meruntuhkan kita ini


Kita harus bersatu Kawan...
bersatu dengan mereka yang satu jiwa
mereka yang berani menyerukan kebenaran
dan tunjukkan !!!
Tunjukkan dan katakan Kawan !!!
Katakan...
Kami perempuan yang berlawan..

Read More

Profil SITI SOENDARI

Soendari dan Organisasi
dengan suara lantang dan berapi-api, dia tampil di hadapn ribuan buruh pada sebuah vergadering (rapat akbar) yang diadakan oleh VereenigingVan Spoor en Trampersoneel (VATP)—serikat buruh pertama di Hindia didirikan 1908 di Semarang. Seolah – olah tidak pernah habis kata – kata keluar dari mulutnya ketika berbicara tentang penjajahan kolonialisme, membuat semua peserta vergadering terkesima bukan hanya karena dia seorang perempuan, tetapi karena keulungannya dalam merangkai kata demi kata menjadi kalimat yang 
 semangat perlawanan. Hidup Ndmembangkitkanari ! Hidup Ndari ! bergema begitu dia selesai berpidato.

Menjalankan pekerjaan organisasi adalah yang utama baginya, segala macam adat istiadat yang mengekang dirinya dia lawan, bahkan bapaknya sendiri. Saat-saat memimpin vergadering merupakan panggilan jiwanya. Ketika dia sedang dirumah bersama sang apak, datang sepucuk surat dari organisasi yang mengatakan bahwa ia harus segera kembali ke Semarang dengan sebelumnya memmpin vergadering lokal di Pemalang, dengan seketika Ndari memenuhi panggilan tugas dan meninggalkan sang bapak tanpa pamit.

Mengenyam pendidikan HBS (Hollandsche Burgerscholen sekolah untuk anak-anak pribumi) di Semarang. Soendari sudah aktivis dalam kegiatan keorganisasian seperti menjadi aktivis Jong Java, Pemalang Bond (sebuah organisasi pelajar Pribumi). Setelah lulus HBS, Soendari menjadi guru di sebuah sekolah swasta di Pemalang dan tidak lama berlangsung dia pindah ke Pacitan tetap menjadi seorang guru pada salah satu sekolah dasar Boedi Moeljo – sekolah yang disubsidi oleh Pemerintah Belanda – Akhornya Soendari dipecat oleh sekolah tersebut karena tekanan Belanda yang tidak suka dengan aktivitas Soendari. Soendari adalah anggota dan juga pengurus VSTP, dia aktif dan ikut membangun cabang-cabang VSTP, terutama di Pacitan dan sekitarnya. Situasi politik pada waktu Soendari mulai terlibat dalam pergerakan memang sedang meninggi, pemogokan terjadi dimana-mana, organisasi perlawanan pribumi tumbuh, pembakaran ladang-ladang tebu, memberikan landasan objektif mendorong kemajuan Soendari.


Banyak peristiwa pemberontakan rakyat dihubung-hubungkan dengan keaktifannya dalam dunia pergerakan. Tanpa sepengetahuan dirinya, pemerintahan Hindia meminta kepada sang bapak untuk meredam aktifitasnya karena dianggap berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan Hindia Belanda.
Adapun cara yang digunakan belanda, dengan meminta kepada snag bapak untuk mengawinkannya, kerena dengan perkawinan dianggap akan mengakhiri aktivitas politik dan organisasi. Tetapi sekali lagi dia menolak perkawinan atas dirinya, meski atas permintaan sang bapak sekalipun.
Soendari dan Koran

dunia tulis menulis telah menjadi minat utamanya. Tulisannya selalu hadir mingguan dalam majalah  dinding sekolah. Menguaai bahasa belanda dengan baik adalah modaan-tel agar  tulisannya dimuat diterbitan-terbitan Belanda. Selain Belanda, Soendari juga menguasai bahasa Inggris, Jerman dan Perancis.
Tulisan-tulisannya yang menggunakan bahasa melayu sekolahan dengan dengan tajam mengecam pemerintah kolonial, muncul diberbagai terbitan dan dengan cepat menarik perhatian Hindia Belanda, sehingga namanya mulai menjadi bahan pembicaraan, segala aktivitasnya diamati secermatnya oleh pemerintah.
Selamamenjalani masapingitan di Pemalang, tulisan - tulisannya justru semakin banyak muncul dan semakin tajam mengecam Belanda.
Tulisan-tulisan pendahulunya, Kartini, yang telah diterbitkan oleh suami istri abondanon dengan judul Disternis tot licht (sebuah buku berisikan kumpulan surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya yang kemudian diterjemahkan oleh Armin Pane dengan judul Habis Gelap Terbilah Terang) juga kawan – kawan seperjuangannya Tirto Adhi Suryo, (pendiri Medan Prijaji – Koran pertama mingguan di jawa yang menjadi corong dan forum diskusi kaum pribumi yang banyak mengkaji issu menyangkut kesejahteraan pribumi, pendidikan, sosial politik dan kritik terhadap kaum priyayi uang korup dan pemerintahan belanda) dan Mas Marco sangat mempengaruhi pikirannya.
Pertemuannya yang singkat dengan Raden Mas Tirto Adhi Suryo memberikan motivasi yang kuat pada diri Soendari untuk menulis sebanyak–banyaknya bagi perjuangan pembebasan bangsanya.
Soendari juga aktif sebagai penulis tetap di Poetri Hindia (Koran pergerakan perempuan pertama yang dibidani oleh Tirto Adhi Suryo), secara berkala tulisan – tulisannya muncul di koran tersebut. Pada 1913, Siti Soendari mendirikan koran perempuan bernama Wanita Sworo, sebuah koran lokal Pacitan, yang ditulis dengan menggunakan huruf dan bahasa jawa, tapi taklama kemudian menggunakan bahasa melayu.
Siti sondari masihlah sanyat muda ketikamemasuki arena pergerakan. Dia, anak perempuan dari seorang Pegawai Pegadaian Negeri Pemalang. Soendari dibesarkan oleh bapaknya – yang lulusan STOVIA (School Tot Opening Van Inlandsche Arsten sekolah dokter di Batavia dimana kaum priyayi pribumi bisa diterima) dalam lingkungan yang sadar pendidikan. Dia terlahir dengan nama Siti Soendari Ruwiyo Darmobroto, anak terakhir dari dua bersaudara. Ayahnya adalah sahabat dari Tirto Adhi Soryo.
Selayaknya pejuang-pejuang pembebasan nasional yang lainnya, Siti Soendari pun tak lepas dari pengamatan Intelejen Belanda. Ketika sebuah Vergadering tengah diselenggarakan oleh VSTP, saat yang bersamaan terjadi pembakaran ladang-ladang tebu oleh para petani tebu di Pemalang. Pemerintah Belanda tidak tinggal diam. Siti Soendari menjadi tersangka utama pembakaran ledang tebu dan penangkapan atas diri soendari segera diinstruksikan. Ya, dia memang tidak tertangkap pada waktu itu karena diselamatkan oleh anggota VSTP dan bapaknya, kemudian dilarikan ke Belanda.
Siti Soendari seorang pejuang perempuan Indonesia, yang namanya tidak banyak diketahui apalagi perjuangan – perjuangannya. Orde Baru telah menghancurkan sejarah – sejarah perlawanan bangsa ini, termasuk Siti Soendari.
Dia adalah contoh kaum muda pada zamannya yang tidak mau tinggal diam menyaksikan bangsanya ditindas oleh Kolonial Belanda. Dia adalah seorang perempuan muda pemberani yang tampil di muka umum , memimpin sebangsanya untuk melawan Belanda. Dia seorang perempuan melalui tulisan-tulisannya menyerang langsung pemerintah Belanda.
“ Untuk kesekian kali ku akui dia sudah sepenuhnya  beremansipasi, dan secara Barat. Ia sudah cerah. Bagiku ia wanita pribumi hasil terindah dari awal zaman modern di Hindia “, (Pramoedya Ananta Toer : Rumah Kaca, hal. 227, penerbit Wira Kraya). *** (majalah Mahrdhika edisi mei 2009)

Read More

HARI KATINI 21 APRIL 2011


KOMITE GERAKAN PEREMPUAN UNTUK KESETARAAN

FOSIS,SEMA-FAI UMI,KOMUNAL,PMII UMI,PEMBEBASAN,PEREMPUAN MAHARDIKA (PM),
PPRM SUL-SEL
REZIM SBY-BODIONO,PARLEMEN DAN ELIT POLITIK BUSUK TELAH GAGAL MELINDUNGI KAUM PEREMPUAN

Hari kartini yang diperingti setiap tanggal 21 april bertepatan dengan hari kelahiran Raden ajeng kartini seyogyanya menjadi hari yangmenggembirakan bagi kaum perempuan,diamana pada hari itu kaum perempuan dapat bercermin dari pengalaman sejarah KARTINI sebagai perempuan yang tegar terpelajar dan berani melakukan intrupsi terhadap kemapanan budaya yang membelenggu kebebasan yang memasung hak-hak kaum perempuan,sungguh ironis Namun kenyataan hari ini berbicara lain terhadap kaum perempuan dimana kebebasan serta hak-hak kaum perempuan terampas oleh kebuasan rezim,mulai dari meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan,TKW terlantar tanpa kejelasan nasib seolah telah  menjadi warna tersendiri dinegri ini,Rezim,Parlemen serta elit politik busuk selalu mengembar gemborkan tentang perlindungan terhadap kaum perempuan namun kenyataanya selalu berbanding terbalik karena perempuan hanya mereka jadikan sapi perahan untuk mengisi kantong-kantong mereka dengan pundi-pundi kekayaan,olehnya itu kesadaran kita harus dimajukan untuk tidak hanya menjadikan peringatan hari kartini sebagai ritual dan seremonial belaka,melainkan menjadikannya sebagai momentum untuk menuntut hak-hak kaum perempuan yang telah terabaikan dibawah kuasa modal serta agen-agen neoliberalisme,elit politi busuk yang tega menjual rakyatnya untuk kepentingan pragmatisnya termasuk menjual hak-hak kaum perempuan,.olehnya itu hanya ada satu kesadaran massa yang harus didorong lebih maju,.menyatakan bahwa,SBY-BOEDIONO,Parlemen dan elit politik busuk  telah gagal..
1.Menegakkan demokrasi
2.Gagal mensejahterakan rakyat
3.gagal melindungi perempuan
Sehingga hanya ada satu kata lawan,.Maka gerakan Harus merevolusionerkannya GULINGKAN....Gulingkan....dan gulingkan....
Hingga hanya ada satu kekuasaan rakyatlah yang bisa menjadi kekuatan untuk mensejahterakan kaum perempuan bukan rezim yang Menjadi pelayan bagi pemodal,bukan pula parlemen serta elit politik busuk,melainkan pemerintahan politik rakyart miskinlah nasib kaum perempuan kan mencapai kemerdekaan serta hak-haknya kan terpenuhi seutuhnya,.
Dalam peringatan hari kartini ini kami dari komite gerakan perempuan untuk kesetaraan menuntut:

1.Kouta 50 % untuk perempuan disemua sektor publik
2.jaminan kesejahteraan serta perlindungan
  Terhadap tenaga kerja wanita,ibu rumah tangga dan perempuan lainnya
3.stop diskriminasi terhadap perempuan.

Hidup perempuan yang berlawan salam kesetaraan dan salam perjuangan bebaskan perempuan dari ketertindasan.............................

Read More

wat Mars

Dengarkanlah bangsa yang melawan
Kepalkan tangan kiri untuk barjuang
Sampaikan salam kaum marginal
Bersama KOMUNAL

Kepala bukan untuk dijual
Jiwa tak untuk digadaikan
Rakyat sejahtera dijadikan cita-cita
Revolusi seutuhnya

Mari bergabung seluruh jiwa
Hancurkan segala penindasan
Jangan pernah ragu jangan pernah mundur
Semua bersatu tak bisa dikalahkan

Mari bergabung seluruh jiwa
Terus berjuang tuk keadilan
jangan pernah ragu jangan pernah mundur
Kita bersatu untuk rakyat sejahtera

11 Maret 2011 (ann_ay_)

Read More

BERSAMA BINTANG

Ini Bukan Puisi Tapi ini lirik Lagunya DRIVE... Ay suka banget nie lagu...jadi di post disini deh...



Drive

Senja kini berganti malam
Menutup hari yang lelah
Dimanakah engkau berada
Aku tak tau dimana

Pernah kita lalui semua
Jerit tangis canda tawa
Kini hanya untaian kata
Hanya itulah yang aku punya

Tidurlah
Selamatmalam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang

Pernah kita lalui semua
Jerit tangis canda tawa
Kini hanya untaian kata
Hanya itulah yang aku punya


Tidurlah
Selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang

 Lupakan diriku Lupakan aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang

Read More

Secarik Surat Untukmu

Aku sudah tak tahan
Melihat mereka yang selalu kelaparan
sedang di atas sana
mereka membuang sisa-sisa makanan mereka
Aku sudah tak mampu
Melihat perempuan
yang selalu jadi bulan-bulanan orang-orang
yang ingin memperbudak mereka
sedang di belakang sana
mereka tertawa melihat drama yang tak ada habis-habisnya


Dan saat ini...
ada satu yang ku mau darimu

Ibu....
Restui aku
kini aku telah ada di barisan mereka
barisan yang kan terus maju
dan tak kan pernah gentar tuk melawan
mempertahankan hak-hak mereka yang masih di tangan

Ayah...
semangati aku
Aku akan meneriakkan kebusukan penguasa
yang tak pernah berhenti merampas hak-hak kita...

Sayang..
Mari kita berjuang bersama...
Agar cinta kita menjadi satu kekuatan
Yang tak akan pernah terkalahkan oleh mereka
Mereka yang memperbudak kita semua

Kawan...
Terus maju...!!!
Kini aku tlah berada di sampingmu
Bersama kita kibarkan bendera revolusi kita
Perlihatkan kepalan-kepalan tangan perlawanan
Runtuhkan negara kita yang rusak
Tebarkan aroma keadilan dan kesejahteraan
di negara kita ini
Sampai kita
Benar-benar merdeka...

Read More

perempuan marginal "BUKAN MIMPI"

By Aya Syaif, 9 feb 2011

Jika mereka menertawakan perjuanganku
maka biarkan aku ikut menangis
bersama mereka yang ku perjuangkan

Jika mereka membenciku karena aku melawan
maka biarkan lah semua orang tahu
bahwa aku kan tetap hidup dengan segala kebencian ini

Jika mereka menganggap 
Kan ku ubah dunia ini hanyalah mimpi belaka
maka biarkn aku menghidupkan mereka di dalam mimpiku

Aku hanya ingin melihat mereka
tak menangis lagi karena lapar
bukan hanya mimpi
aku hanya ingin melihat mereka yang bertubuh kurus
tak lagi harus menahan haus
Dan ini bukan mimpi

Aku tak ingin melihat ibu memikul beban

dan Aku ingin semua perempuan tersenyum
Atas lelaki yang berjalan di sampingnya
Bukan menuntunnya dan bukan pula mengikutinya

Dan aku ingin
semuanya bukanlah mimpi....

Read More

FB Comment

 

©2009CATATAN KECILKU | by TNB